Kamis, 26 Februari 2026
BerandaBeritaJepang dalam Bahaya: Angka Kelahiran Anjlok 10 Tahun Berturut-turut
Jepang dalam Bahaya: Angka Kelahiran Anjlok 10 Tahun Berturut-turut
internasionaljepangdemografisosial

Jepang dalam Bahaya: Angka Kelahiran Anjlok 10 Tahun Berturut-turut

Jepang menghadapi krisis demografis serius setelah angka kelahiran terus menurun selama 10 tahun berturut-turut. Pemerintah Jepang mengambil langkah darurat.

20 Februari 20262 menit baca
Share:

Krisis Demografis Jepang

Jepang resmi mencatatkan rekor baru yang mengkhawatirkan: angka kelahiran terus menurun selama 10 tahun berturut-turut. Data terbaru menunjukkan jumlah bayi lahir pada 2025 hanya mencapai 720.000, turun dari 758.000 pada tahun sebelumnya.

Tren ini menempatkan Jepang sebagai salah satu negara dengan krisis demografis terburuk di dunia.

Data Mengkhawatirkan

Tren Penurunan

Berikut tren kelahiran di Jepang dalam dekade terakhir:

  • 2016: 977.000 kelahiran
  • 2018: 918.000 kelahiran
  • 2020: 840.000 kelahiran
  • 2022: 799.000 kelahiran
  • 2024: 758.000 kelahiran
  • 2025: 720.000 kelahiran

Populasi Menua

Saat ini, lebih dari 29 persen populasi Jepang berusia di atas 65 tahun, menjadikannya negara dengan populasi tertua di dunia. Proyeksi menunjukkan angka ini bisa mencapai 35 persen pada 2040.

Penyebab Utama

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap krisis ini:

  1. Biaya hidup tinggi — biaya membesarkan anak sangat mahal di Jepang
  2. Budaya kerja berlebihankaroshi (mati karena kerja berlebihan) masih menjadi isu
  3. Perubahan nilai sosial — generasi muda lebih memilih karir dan kebebasan
  4. Kurangnya dukungan — fasilitas penitipan anak masih terbatas
  5. Tekanan ekonomi — upah stagnant sementara harga terus naik

Langkah Darurat Pemerintah

Perdana Menteri Jepang menyebut situasi ini sebagai "keadaan darurat nasional" dan mengumumkan paket kebijakan baru:

Insentif Finansial

  • Tunjangan kelahiran anak ditingkatkan menjadi ¥1 juta per anak
  • Subsidi pendidikan gratis diperluas hingga universitas
  • Bantuan perumahan untuk keluarga muda

Reformasi Kerja

  • Pembatasan jam lembur lebih ketat
  • Cuti ayah diperpanjang menjadi 6 bulan
  • Fleksibilitas kerja remote diperluas

Imigrasi Terbatas

  • Visa kerja dipermudah untuk tenaga terampil
  • Program khusus perawat dan caregiver dari Asia Tenggara
  • Jalur residensi permanen dipercepat

Pelajaran bagi Indonesia

Meskipun Indonesia masih memiliki angka kelahiran yang relatif tinggi, tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup menunjukkan pola serupa yang perlu diantisipasi:

"Indonesia harus belajar dari pengalaman Jepang. Bonus demografi yang kita miliki saat ini tidak akan berlangsung selamanya." — Pakar Demografi UI

Krisis demografis Jepang menjadi peringatan bagi negara-negara lain bahwa keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan populasi harus dijaga dengan kebijakan yang tepat.

#internasional#jepang#demografi#sosial
Share:
Anla Harpanda

Ditulis oleh

Anla Harpanda

Full Stack Web Developer & UI/UX Designer. Berpengalaman dalam Next.js, Express.js, Laravel, dan React.

Berita yang Mungkin Anda Suka